“KENANGAN”
Yuri
membuka matanya, ia mengangkat tangannya dan langsung menutupi matanya. Cahaya
lampu itu sangat terang, begitu menyilaukan matanya. Begitu ia mencoba untuk
bangun, ia merasakan kepalanya berputar-putar dan badannya lemas. Akhirnya, ia
pun terbaring lemas di ranjang itu. Ia memijat-mijat tangan kanan dengan tangan
kirinya yang dipasangi infus. “Dimana ini?” pikirnya. Sebelumnya, ia tak sempat
berpikir dimana dan mengapa ia bisa ada disini karena teralihkan oleh rasa
sakit di sekujur tubuhnya.
Suara
pintu yang terbuka memecah keheningan yang ada di ruangan itu. Seorang wanita,
berusia sekitar 30 tahun, muncul dari luar pintu itu sambil membawa tensi
meter, jarum suntik, obat-obatan dan buku
laporan panjang serta pulpen dalam sebuah wadah ditangannya. Perawat itu tidak
bisa menyembunyikan ekspersi terkejutnya melihat Yuri yang membuka matanya di
atas ranjang pasien itu. Perawat itu seolah-olah membeku di tempat. Yuri
mengambil inisiatif menyapa perawat itu lebih dahulu. “Halo…” sapa Yuri pendek.
Perawat itu menarik napas panjang tanda lega dan tersenyum sambil berkata “Akhirnya
kau sudah sadar ”. Yuri tampak bingung dengan kata-kata perawat itu. “Memangnya
aku kenapa? Kenapa aku bisa ada disini?” Tanya Yuri dengan kening berkerut.
“Kau mengalami kecelakaan serius. Warga sekitar yang melihat kecelakaan itu
membawamu ke rumah sakit ini. Dan kau sudah tak sadarkan diri selama 5 hari.”
Jelas perawat itu. “Sekarang, aku akan melakukan pemeriksaan terhadapmu.” Lanjut perawat itu dan mulai menggunakan tensi
meternya.
“Dokter
menyuruhku untuk menelepon keluarga pasien, tapi aku tidak menemukan kartu
identitas ataupun telepon genggam di dalam tas mu. Mungkin saat kecelakaan, ada
seseorang yang mencuri dompet dan telepon genggam yang berada di dalam tas mu. Manusia-manusia jaman sekarang pandai
mencari kesempatan dalam kesempitan.” Kata perawat itu. ” “Jadi sekarang,
apakah kau akan memberitahu nomor telepon orang tuamu?” Tanya perawat itu
sambil menyuntikkan semacam obat ke dalam infus Yuri. Yuri yang ditanya malah
bengong. Pandangan matanya mengisyaratkan bahwa ia sedang mengingat sesuatu.
Pintu
ruangan itu terbuka lagi, dan kali ini seorang dokter dengan badan tegap berjas
putih memasuki ruangan. Ia mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh
perawat tadi. Ia berkata “Akhirnya kau
sudah sadar” sambil memasuki ruangan. “Bagaimana kabarmu?” Tanya dokter. “Baik”
jawab Yuri singkat. “Siapa namamu?” Tanya dokter lagi. “Yuri” jawab Yuri
singkat. “Yuri Kwon” tambahnya. “Dimana rumahmu?” Kali ini perawat wanita itu
yang bertanya. “Di daerah Jakarta Utara.” Jawab Yuri datar. Ketika dokter
hendak bertanya, Yuri mendahuluinya. “Dimana aku? Mengapa aku bisa sampai
disini?” perawat tadi menjawab. “Bukankah sudah kubilang? Kau mengalami
kecelakaan. Warga disekitar…” “Aku sudah mendengarnya. Tapi aku tidak ingat
sama sekali aku mengalami kecelakaan. Begitu aku bangun tidur, aku sudah ada di
ruangan ini” sela Yuri sambil menggosok-gosokkan tangan ke kepalanya. Yuri menambahkan
“Aku tidak tahu, aku tidak ingat.” Dokter
dan suster saling berpandangan. Sepertinya mereka mempunyai pikiran yang sama.
***
Di
dalam ruang kerjanya, dokter dan suster tadi sedang berdiskusi mengenai Yuri.
“Ada kemungkinan pasien tadi mengalami amnesia” kata dokter. “Saya rasa juga
begitu, dok” jawab suster. “Untuk mengetahui jenis amnesianya, kita harus
melakukan serangkaian tes. Kemungkinan pasien tadi mengalami Retrograde Amnesia
karena trauma pasca kecelakaan yang menimpanya.” “Segera telepon walinya!”
perintah dokter kepada sang perawat.
***
Di
dalam ruang inap, Yuri mencoba mengingat-ingat lagi apa sebenarnya yang terjadi
hingga ia ada di rumah sakit ini. Ia menutup matanya dan mencoba mengingat. Kepalanya
masih terasa sakit. Di dalam pikirannya, ada gambaran akan dirinya yang sedang
mengendarai mobil sambil menangis. Ia terlihat sangat marah, emosi yang
meluap-luap terlihat diwajahnya. Dan tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada
sebuah truk dan semuanya langsung berubah gelap.
Yuri
mengerjap. Ia menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka. Dari pintu itu muncul
seorang pria. Wajahnya mirip orang bule tetapi juga sedikit mirip orang Asia
Timur. Perawakannya tinggi tegap, rambutnya hitam legam dengan model spike. “Hai,
Yuri! Bagaimana kabarmu?” Tanya pria itu dengan suaranya yang agak serak. Pria
itu tampak cemas melihat Yuri tetapi ia berusaha untuk tersenyum. Yuri menatap
pria yang kini mendekat ke arahnya itu. Pria itu jelas mengenal Yuri karena ia
menyebutkan nama Yuri tadi. Yuri mengernyitkan dahinya, sepertinya ia pernah
mengenal pria itu. Tatapan matanya yang teduh dan suara khas nya itu, pernah ia
lihat dan ia dengar. Yuri yakin ia mengenal pria itu. Semakin ia mencoba
mengingat siapa laki-laki itu, sakit di kepala Yuri semakin menjadi-jadi. Jadi,
Yuri menyerah.
Pria
itu semakin mendekat dan ia duduk di kursi di samping ranjang tempat Yuri
tidur. “Bagimana kabarmu, Yuri? Apakah kamu baik-baik saja?” Pria tadi
mengulangi pertanyaannya. “Cukup baik.” Jawab Yuri singkat. Pria itu tersenyum.
“Syukurlah, kau baik-baik saja.” Ada nada lega dalam suaranya. “Maaf, apa aku
mengenalmu?” Tanya Yuri sopan. Pria itu diam, ia tampak tak bisa menyembunyikan
kekagetannya mendengar pertanyaan Yuri tadi. “Yuri, ada apa denganmu? Kau
benar-banar tidak mengenalku?” Kata pria itu, ia tampak semakin cemas.
Yuri
hendak menjawab ketika pintu ruangan itu terbuka lagi dan kali ini dokter dan
perawat yang tadi pagi di lihatnya sedang memasuki ruangannya. “Apa kau
keluarga pasien?” Tanya dokter. “Saya temannya, dok.” Jawab pria itu. “Apakah
kau sudah menghubungi nomor telepon orang tua atau wali dari pasien?” Tanya
dokter itu lagi. “Ia tinggal sendiri di Jakarta ini, dok. Orang tuanya sudah
meninggal. Apakah ada yang serius?” Tanya pria itu. “Mari ikut ke ruangan
saya.” Kata dokter. “Tolong gantikan saya, periksa dia dan berikan laporannya
kepada saya nanti!” Dokter berkata pada si perawat. Si perawat hanya
mengangguk.
***
Di
dalam ruangan dokter, terjadi perbincangan yang serius antara ia dan pria tadi.
Dari pengakuan pria tadi kepada dokter, ternyata ia merupakan kekasih pasien,
Yuri. Pria itu bernama Aron. Ia merupakan pria blasteran Amerika-Korea yang
merupakan anak pengacara pribadi keluarga Kwon. Yuri tinggal sendiri dirumahnya
di Jakarta. ia anak tunggal. Ayahnya berasal dari Seoul dan ibunya merupakan
salah satu wanita yang berpengaruh di Indonesia. Ia ditinggalkan oleh orang
tuanya yang meninggal kerena kecelakaan pesawat terbang semasa ia SMP. Ketika
itu Yuri berusia 15 tahun. Untungnya ia merupakan anak konglomerat pemilik
Hyundai Departement Store yang membuka cabang di hampir seluruh kawasan Asia,
sehingga Yuri tidak perlu dikirim ke panti asuhan.
Semua
kerabat Yuri dari Ayah ataupun ibunya tidak peduli kepadanya. Beberapa ada yang
menunjukkan rasa simpati tetapi sebenarnya mempunyai niat yang terselubung. Ia
tinggal dirumah besar yang diwariskan oleh kedua orang tuanya bersama pembantu
dan tukang kebunnya yang setia menemaninya.
Sebelum
meninggal, ayah Yuri sempat berpesan kepada Aron untuk menjaga putri semata
wayangnya itu. Ia mempercayakan putrinya pada Aron. Ia berpesan agar Aron
mengajarinya mengenai seluk beluk perusahaan. Yuri merupakan anak yang genius.
Ia belajar dengan cepat. Dalam lima tahun, ia sudah berhasil mengembangkan
perusahaan yang ditinggalkan ayahnya. Keuntungan perusahaan sampai mencapai 20
persen. Ia menjadi Presiden Direktur wanita yang pertama dan termuda di Asia.
Dokter
mengatakan Yuri mengalami Retrogarde Amnesia. Hal ini disebabkan oleh trauma
yang ia alami pasca kecelakaan. Dokter mengatakan pada Aron bahwa amnesia yang
dialami oleh Yuri ini tidak permanen. Ia hanya melupakan kenangan-kenangan
sebelum kecelakaan karena traumanya. Kemampuan akademisnya masih bagus. Jadi,
ingatan yuri dapat pulih sewaktu-waktu. Aron hanya diam mendengarkan penjelasan
dari dokter. Dokter berharap agar Aron dapat membantu mempercepat pulihnya
ingatan Yuri.
***
Beberapa
hari kemudian, dokter mengijinkan Yuri pulang ke rumahnya. Aron menemaninya
pulang. Setiap hari selama Yuri dirawat di rumah sakit, Aron selalu
menemaninya. Pada pagi harinya sampai jam pulang kerja, Yuri akan ditemani oleh
Minah, pembantunya. Sore harinya hingga pagi hari, adalah giliran Aron untuk
menjaga dan menemaninya. Untuk sementara ini, hal-hal mengenai perusahaan akan
diurus oleh Aron.
Yuri
selalu tersenyum dan tertawa bila ada Aron disampingnya. Aron juga begitu. Ia
selalu tersenyum melihat Yuri tersenyum kearahnya. Bersama Aron beberapa hari,
Yuri sedikit-sedikit sudah bisa mengingat kenangan-kenangannya bersama Aron. Seperti
ketika ia mengingat ia dan Aron pergi berlibur ke Macau dan Aron memainkan
piano untuknya di sebuah hotel disana, ketika ia dan Aron memasak bersama
dirumahnya, dan kenangan yang lainnya. Minah juga berperan penting bagi yuri
untuk mengingat kembali kenangannya bersama Aron. Minah menceritakan
kisah-kisah tentang ia dan Aron yang pernah Yuri ceritakan padanya. Minah
berkata bahwa Yuri sangat suka curhat dengan Minah walaupun saat mendiang ibu
Yuri masih hidup. Yuri sangat menyayangi Minah dan menganggapnya seperti ibunya
sendiri.
***
Sesampainya
dirumah, Aron mengajak Yuri langsung beristirahat di dalam kamarnya di lantai
dua. Tapi, sebelum itu, ia menyapa Parmin, tukang kebunnya yang juga merupakan
suami Minah. Selama menjaga Yuri dirumah sakit, Minah juga sering menceritakan
tentang suaminya. Yuri ingat sekilas tentang Pamin. Parmin adalah orang yang
dulu menjadi supirnya sebelum ia bisa mengemudikan mobilnya sendiri.
Di
dalam kamar, Aron menyuruh Yuri untuk segera beristirahat. “Istiratlah! Kamu
pasti capek.” Kata Aron sambil menyelimuti Yuri. “Baiklah” kata Yuri sambil
mengangguk. “Aku pulang dulu, besok aku menemuimu lagi. Selamat tidur” Kata
Aron. Yuri hanya tersenyum.
***
Keesokan
harinya, Yuri memutuskan untuk pergi kerumah Aron ditemani Parmin. Dirumah
Aron, Yuri langsung masuk tanpa membuyikan bel karena pintu gerbang terbuka
lebar. Mobil yang dipakai oleh Aron untuk mengantarnya pulang kemarin pun masih
terparkir di depan rumahnya.
Pintu
depan rumah Aron pun juga terbuka setengahnya. Ia dapat melihat Aron dari luar.
Ketika hendak masuk kedalam, langkah Yuri terhenti. Ia melihat Aron dan seorang
wanita yang kira-kira sebaya dengannya sedang berbincang-bincang. Yuri enggan
mengganggu perbincangan mereka. Ia membalikkan badannya hendak pergi.
***
“Rencana
kita sepertinya akan berhasil. Sekarang nona muda itu mengalami amnesia dan
tinggal beberapa langkah lagi bagi kita untuk menguasai perusahaannya.” Kata
wanita itu. “Tutup mulutmu, Bella!” Kata Aron . wanita itu ternyata bernama
Bella. “Aron sayang, mengapa kamu begitu kasar kepadaku? Bukankah ini memang
rencana kita sejak awal?” Bella menghampiri Aron dan menepuk pundaknya. Aron
menatapnya. “Kau mendekati Yuri, anak dari almarhum Presdir Kwon untuk
membalaskan dendam ayahmu kan? Membalaskan dendam ayahmu yang meninggal karena
dipaksa setia pada keluarga Kwon dan dipaksa melakukan hal yang berarti ia
harus siap mengorbankan nyawanya sendiri demi keluarga Kwon kapanpun dan apapun
yang terjadi.” Bella berkata dengan sedikit berteriak ke arah Aron. Kemudian ia
menarik napas, menenangkan dirinya sebeum ia kembali melanjutkan dengan suara
yang pelan. “Jika bukan karena ayahmu, Aron, yang memasangkan parasut darurat
pada anak bernama Yuri pada saat kecelakaan pesawat lima tahun lalu itu, anak
itu pasti sudah mati menggantikan ayahmu yang sekarang berada di surga. Ayahmu mengorbankan parasut darurat miliknya
untuk anak itu dan mengabaikan keselamatannya sendiri. Jika saja…” “Cukup
Bella! Hentikan! Aku muak mendengar omong kosongmu!” Teriak Aron.
***
Ketika
hendak berbalik meninggalkan Rumah Aron, terdengar teriakan wanita yang di
dalam tadi. Suara wanita itu terdengar dan terngiang-ngiang di telinga Yuri.
Yuri dapat mendengar dengan jelas semua percakapan itu. Ia menagis sambil
memegang kepalanya yang terasa sakit. Kakinya lemas, ia tak sanggup berdiri
lagi. Ia berpegangan pada tembok disampingnya untuk membantunya tetap berdiri.
***
Di pikirannya tergambar ia yang tersenyum
sambil mengendarai mobil menuju rumah Aron. Ia ingin memberi kejutan kepada
Aron. Ia ingat, sebelumya ia juga pernah
mendengar kata-kata yang mirip, yang pernah diucapkan wanita bernama Bella
itu.
Setelah
berusaha keras mengingat sambil menahan sakit kepalanya, Yuri akhirnya berhasil
mengingatnya. Pada saat itu, ia sampai di pintu depan rumah Aron dan hendak
masuk. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat wanita bernama Bella itu
sedang duduk di ruang tamu Aron. Wanita itu dan Aron sedang berbicara mengenai
rencana pembalasan dendam yang ditujukan kepada dirinya.
Yuri
sangat terkejut mendengar hal itu. Ia hanya bisa diam. Ia segera berbalik
meninggalkan rumah Aron menuju mobilnya yang diparkir diluar. Ia menginjak gas
mobilnya sangat dalam dan melaju dengan kecepatan yang tinggi. Ia menangis
dengan sangat keras di dalam mobilnya. Ia tak menyangka bahwa Aron, orang yang
paling ia percayai di dunia ini, akan menusuknya dari belakang. Ia tak
menyangka bahwa Aron mempunyai niat balas dendam terhadapnya.
Karena
basah oleh air mata, Yuri tak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di depannya.
Ia ternyata melaju di jalur yang salah. Sebelum sempat menyadari kesalahannya,
Yuri mendengar suara keras klakson truk di depannya. Ia refleks membanting
setir mobilnya ke kanan. Mobilnya menabrak trotoar dan ia tak sadarkan diri.
***
Yuri
sudah ingat lagi sekarang. Ia mengingat dengan jelas semua kenangan menyakitkan
itu. Ia tak sadar air matanya mengalir deras. Kepalanya sangat sakit dan lututnya
menjadi semakin lemas. Ia bersender pada tembok rumah Aron. Kemudian
penglihatannya menjadi kabur dan kepalanya berkunang-kunang. Yuri jatuh dan tak
sadarkan diri.
***
“Yuri,
kau kenapa? Jangan pingsan disini! Bangunlah!” teriak Parmin. Suaranya
terdengar panik. Mendengar teriakan panik Parmin diluar, Aron segera keluar. Ia
melihat Yuri pingsan dan Parmin sedang mengguncang-guncangkan tubuh Yuri
mencoba membangunkan Yuri. Wajah Aron menegang. Ia hanya berkata “Kita ke rumah
sakit, sekarang!”
***
Yuri
masih terdidur pulas di ranjang rumah sakit. Aron duduk di sampingnya dan
menggenggam tangannya. Ia membelai rambut Yuri yang hitam panjang. Ia menduga
Yuri sudah mendengar percakapannya dan Bella tadi. Walaupun begitu, ia berharap
Bella tak mendengarnya. Ia tak mau Bella marah dan menjadi salah paham kepadanya.
Sebenarnya
Aron tak pernah menyimpan dendam apapun terhadap Yuri. Ia sungguh-sungguh
mencintai gadis itu dengan tulus. Bella hanya suka ikut campur urusan orang.
Aron heran darimana gadis itu bisa mendapatkan informasi mengenai ia dan Yuri
dengan sangat akurat. Ia tak menyangka ada orang yang sampai tahu mengenai
alasan kematian ayahnya. Bahkan Yuri sendiripun tidak mengetahui alasan
kematian ayahnya.
Yuri
mengalami trauma yang berat setelah kecelakaan pesawat yang menyebabkan kedua
orang tuanya meninggal. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayah dan
ibunya. Seandainya saja ia tidak merengek minta liburan akhir tahun ke Hawai,
pasti ayah dan ibunya masih berada disini, bersama dengannya hingga saat ini.
Yuri juga mengalami depresi yang sangat hebat. Ia seolah-olah sudah menyerah
akan hidupnya. Demi kebaikan Yuri, Aron menemui pakar psikologis yang
menyarankan agar Yuri dihipnotis dan ia pun setuju. Jadi, Yuri tidak ingat
bahwa ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang. Yang ada
dalam ingatannya adalah ayahnya meninggal karena sakit jantung dan beberapa
tahun kemudian ibunya juga meninggal karena asma yang di deritanya.
Bella
merupakan teman kuliah Aron di Havard University. Ia tahu Bella menyukainya dan
sering bertingkah bahwa Aron adalah kekasihnya. Aron sudah jelas-jelas menyuruh
Bella untuk menjauh. Tetapi, Bella tak pernah mendengarkannya. Ia terus saja menempel
pada Aron. Ia memang wanita bermuka tebal.
Hingga
pada suatu hari, Bella datang ke rumahnya dan merencanakan balas dendam atas
kematian ayahnya pada Yuri. Aron terkejut bukan main. Ia tak habis pikir dengan
rencana gila yang di ajukan oleh Bella. Aron jelas-jelas menolaknya dengan
mentah-mentah. Tapi, Bella berkata bahwa jika Aron tidak setuju, ia sendiri
yang akan membalaskan dendam Aron pada Yuri dengan cara apapun. Ia ingin Aron
memutuskan hubungannya dengan Yuri.
Pada
saat itu, ia tak tahu bahwa Yuri berkunjung kerumahnya dan mendengar rencana
gila yang diajukan oleh Bella. Yuri hanya mendengar setengah dari pembicaraan
mereka. Yuri dibutakan oleh amarahnya. Ia sudah salah paham dan mengira Aron
telah mengkhianatinya.
***
Yuri
tersadar beberapa jam kemudian, ia melihat Aron duduk disamping ranjangnya dan
menatapnya dengan cemas. Aron melihat Yuri telah sadar. Ia tersenyum sekilas. “Apa
kau baik-baik saja?” Tanya Aron. Yuri ingat dengan kejadian dirumah Aron tadi.
Melihat Aron, membuat hatinya terasa sakit. Ia memalingkan wajahnya dan
membalikkan badannya memunggungi Aron. Yuri tak sanggup melihat wajah Aron.
Matanya berkaca-kaca menahan agar ia tak menjatuhkan air matanya di depan Aron.
“Syukurlah
kau sudah sadar. Aku akan panggilkan dokter untuk memriksamu kesini.” Kata Aron
lembut. Aron pergi meninggalkan Yuri sendirian di dalam kamarnya. Sepeninggal
Aron dari kamarnya, Yuri tak kuasa membendung air matanya lagi. Ia menangis
tanpa suara. Walupun begitu, Aron mengetahui kalau gadis itu sedang menangis.
***
Selama
seminggu ini Aron datang menjenguk Yuri di rumah sakit, setiap hari pula Yuri
selalu menolak kunjungannya. Ia tak pernah menolak kunjungan dari Minah dan
Parmin maupun kunjungan dari teman-teman sekantornya. Sepertinya dugaa Aron
benar. Yuri mendengar pembicaraanya dengan Bella waktu itu dan menjadi salah
paham terhadapnya. Aron sudah mencoba untuk menjelaskan kesalahpahaman ini.
Tetapi, ia tak punya kesempatan. Yuri selalu menolak bertemu dengannya. Aron
merasa sangat sedih.
Minah
melihat hal itu dan merasa simpati terhadap Aron. Minah pernah mencoba membujuk
Yuri untuk menerima kunjungan dari Aron tetapi Yuri mengancam akan memusuhi
Minah juga jika ia sekali lagi berani berkata demikian. Minah tak tahu apa
penyebab pertengkaran majikannya itu dengan Aron. Selama ini, ia tak pernah
melihat Yuri begitu sangat marah terhadap Aron, sampai-sampai tak mau berbicara
padanya selama berhari-hari.
Setahu
Minah, Yuri memang pernah bertengkar dengan Aron untuk hal-hal yang sepele.
Seperti ketika Aron membatalkan janji kencannya tiba-tiba karena suatu hal dan
membuat Yuri menunggu selama 1 jam di Bioskop. Sampai dirumah, Yuri langsung
mengeluarkan unek-unek dan rasa kesalnya terhadap Aron ke Minah. Minah hanya
menjadi pendengar yang baik dan kadang-kadang juga suka memberikan solusi.
Keesokan harinya, Aron datang membawa sebuket bunga dan menyiapkan sarapan
untuk Yuri. Pada awalnya Yuri merajuk tetapi setelah itu, mereka berdua
berbaikan kembali.
Kali
ini Minah menduga masalahnya sangat serius sampai-sampai Yuri marah
berhari-hari. Tidak seperti biasanya, Yuri juga tidak bercerita apa-apa pada
Minah untuk masalah kali ini. Ini membuat Minah bingung. Minah enggan
menanyakannya langsung kepada Yuri ataupun Aron, Minah berpikir keduanya sudah
cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah mereka.
***
Hari
ini adalah hari dimana Yuri keluar dari rumah sakit. Hari ini Aron juga datang.
Sebelumnya, ia dan Minah sudah mengatur rencana agar Yuri tidak bisa
menghindari Aron kali ini. Minah dan Yuri keluar dari pintu rumah sakit. Minah
meminta ijin untuk ke toilet sebentar sambil mereka menunggu Parmin menjemput
mereka. “Baiklah, jangan lama-lama atau nanti aku tinggal.” Kata Yuri datar.
Aron
menghampiri Yuri sambil membawa buket bunga mawar putih favorit Yuri
ditangannya. Yuri hanya menatapnya dingin dan berbalik hendak pergi menyusul
Minah ke toilet, tapi ia terlambat. Aron sudah menggenggam kuat tangannya dan
menuntunnya menuju taman kecil di dekat rumah sakit. Yuri mencoba melepaskan
genggaman Aron, tetapi genggaman pria itu terlalu kuat. Ia memaksa Yuri untuk
duduk di salah satu bangku taman rumah sakit dibawah pohon yang rindang itu.
Yuri menurut dan duduk dengan manis. Aron berjongkok didepannya dan menatap
Yuri. Tatapan matanya masih sama, teduh.
“Aku
tahu mengapa kamu menjadi seperti ini.” Kata Aron memulai percakapan. Yuri
hanya terdiam dan menatap Aron tanpa ekspresi. “Kamu sudah salah paham, Yuri.
Aku tidak pernah berniat untuk membalas dendam atau apapun itu yang Bella
katakan. Itu hanya rencananya gilanya sendiri.” Yuri tertegun. Ia teringat akan
teriakan Aron kepada Bella yang menyuruhnya untuk menghentikan semua omong
kosongnya. “Aku tulus mencintaimu, Yuri. Aku mohon berhentilah menghindariku.
Kita mulai hubungan kita dari awal lagi.” Kata Aron tulus. Yuri tidak bisa
menemukan nada kepura-puraan dalam kata-kata Aron tadi. Ia tahu, kata-kata Aron
tadi itu memang tulus dari dalam lubuk hatinya. Yuri menagis, air mata
membasahi pipinya. Yuri menyesal telah menghindari Aron selama ini dan ia juga
menyesal karena tidak pernah memberikan Aron satu kesempatan pun untuk memberi
penjelasan kepadanya.
Aron
melihat Yuri menangis. Ia meletakkan buket bunga yang dipgangnya itu disamping
Yuri. Kemudian, ia menghapus air mata Yuri dengan kedua tangannya. “Berhentilah
menangis, nanti matamu menjadi sembab dan wajahmu akan menjadi jelek.” Kata
Aron. “Tersenyumlah, Yuri.” Lanjut Aron masih menghapus air mata Yuri. Kemudian
mereka berdua bangun dan keduanya berpelukan. Yuri memeluk Aron dengan erat
sambil memegang buket mawar putih di tangan kananya. Yuri masih menagis tetapi
sekarang ia tersenyum. Aron juga memeluk Yuri dengan erat dan ia juga
tersenyum. Ia senang Yuri telah memaafkannya dan kesalahpahaman diantara mereka
sudah terselesaikan.
Minah
dan Parmin tersenyum senang melihat keduanya berpelukan dari kejauhan. Minah
mengacungkan jempol kepada Aron. Aron melihatnya dan membalas mengacungkan
jempolnya. Ia sangat berterima kasih kepada Minah. Tanpa ide dari Minah, mungin
sekarang Yuri masih menjauhinya.
-Tamat-