Minggu, 06 Desember 2015

This is my own-original-made short story. Please enjoy! :)


“KENANGAN”
Yuri membuka matanya, ia mengangkat tangannya dan langsung menutupi matanya. Cahaya lampu itu sangat terang, begitu menyilaukan matanya. Begitu ia mencoba untuk bangun, ia merasakan kepalanya berputar-putar dan badannya lemas. Akhirnya, ia pun terbaring lemas di ranjang itu. Ia memijat-mijat tangan kanan dengan tangan kirinya yang dipasangi infus. “Dimana ini?” pikirnya. Sebelumnya, ia tak sempat berpikir dimana dan mengapa ia bisa ada disini karena teralihkan oleh rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Suara pintu yang terbuka memecah keheningan yang ada di ruangan itu. Seorang wanita, berusia sekitar 30 tahun, muncul dari luar pintu itu sambil membawa tensi meter, jarum suntik, obat-obatan  dan buku laporan panjang serta pulpen dalam sebuah wadah ditangannya. Perawat itu tidak bisa menyembunyikan ekspersi terkejutnya melihat Yuri yang membuka matanya di atas ranjang pasien itu. Perawat itu seolah-olah membeku di tempat. Yuri mengambil inisiatif menyapa perawat itu lebih dahulu. “Halo…” sapa Yuri pendek. Perawat itu menarik napas panjang tanda lega dan tersenyum sambil berkata “Akhirnya kau sudah sadar ”. Yuri tampak bingung dengan kata-kata perawat itu. “Memangnya aku kenapa? Kenapa aku bisa ada disini?” Tanya Yuri dengan kening berkerut. “Kau mengalami kecelakaan serius. Warga sekitar yang melihat kecelakaan itu membawamu ke rumah sakit ini. Dan kau sudah tak sadarkan diri selama 5 hari.” Jelas perawat itu. “Sekarang, aku akan melakukan pemeriksaan terhadapmu.”  Lanjut perawat itu dan mulai menggunakan tensi meternya.
“Dokter menyuruhku untuk menelepon keluarga pasien, tapi aku tidak menemukan kartu identitas ataupun telepon genggam di dalam tas mu. Mungkin saat kecelakaan, ada seseorang yang mencuri dompet dan telepon genggam yang berada di dalam tas  mu. Manusia-manusia jaman sekarang pandai mencari kesempatan dalam kesempitan.” Kata perawat itu. ” “Jadi sekarang, apakah kau akan memberitahu nomor telepon orang tuamu?” Tanya perawat itu sambil menyuntikkan semacam obat ke dalam infus Yuri. Yuri yang ditanya malah bengong. Pandangan matanya mengisyaratkan bahwa ia sedang mengingat sesuatu.
Pintu ruangan itu terbuka lagi, dan kali ini seorang dokter dengan badan tegap berjas putih memasuki ruangan. Ia mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh perawat tadi.  Ia berkata “Akhirnya kau sudah sadar” sambil memasuki ruangan. “Bagaimana kabarmu?” Tanya dokter. “Baik” jawab Yuri singkat. “Siapa namamu?” Tanya dokter lagi. “Yuri” jawab Yuri singkat. “Yuri Kwon” tambahnya. “Dimana rumahmu?” Kali ini perawat wanita itu yang bertanya. “Di daerah Jakarta Utara.” Jawab Yuri datar. Ketika dokter hendak bertanya, Yuri mendahuluinya. “Dimana aku? Mengapa aku bisa sampai disini?” perawat tadi menjawab. “Bukankah sudah kubilang? Kau mengalami kecelakaan. Warga disekitar…” “Aku sudah mendengarnya. Tapi aku tidak ingat sama sekali aku mengalami kecelakaan. Begitu aku bangun tidur, aku sudah ada di ruangan ini” sela Yuri sambil menggosok-gosokkan tangan ke kepalanya. Yuri menambahkan “Aku tidak tahu, aku tidak ingat.”  Dokter dan suster saling berpandangan. Sepertinya mereka mempunyai pikiran yang sama.
***
Di dalam ruang kerjanya, dokter dan suster tadi sedang berdiskusi mengenai Yuri. “Ada kemungkinan pasien tadi mengalami amnesia” kata dokter. “Saya rasa juga begitu, dok” jawab suster. “Untuk mengetahui jenis amnesianya, kita harus melakukan serangkaian tes. Kemungkinan pasien tadi mengalami Retrograde Amnesia karena trauma pasca kecelakaan yang menimpanya.” “Segera telepon walinya!” perintah dokter kepada sang perawat.
***
Di dalam ruang inap, Yuri mencoba mengingat-ingat lagi apa sebenarnya yang terjadi hingga ia ada di rumah sakit ini. Ia menutup matanya dan mencoba mengingat. Kepalanya masih terasa sakit. Di dalam pikirannya, ada gambaran akan dirinya yang sedang mengendarai mobil sambil menangis. Ia terlihat sangat marah, emosi yang meluap-luap terlihat diwajahnya. Dan tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada sebuah truk dan semuanya langsung berubah gelap.
Yuri mengerjap. Ia menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka. Dari pintu itu muncul seorang pria. Wajahnya mirip orang bule tetapi juga sedikit mirip orang Asia Timur. Perawakannya tinggi tegap, rambutnya hitam legam dengan model spike. “Hai, Yuri! Bagaimana kabarmu?” Tanya pria itu dengan suaranya yang agak serak. Pria itu tampak cemas melihat Yuri tetapi ia berusaha untuk tersenyum. Yuri menatap pria yang kini mendekat ke arahnya itu. Pria itu jelas mengenal Yuri karena ia menyebutkan nama Yuri tadi. Yuri mengernyitkan dahinya, sepertinya ia pernah mengenal pria itu. Tatapan matanya yang teduh dan suara khas nya itu, pernah ia lihat dan ia dengar. Yuri yakin ia mengenal pria itu. Semakin ia mencoba mengingat siapa laki-laki itu, sakit di kepala Yuri semakin menjadi-jadi. Jadi, Yuri menyerah.
Pria itu semakin mendekat dan ia duduk di kursi di samping ranjang tempat Yuri tidur. “Bagimana kabarmu, Yuri? Apakah kamu baik-baik saja?” Pria tadi mengulangi pertanyaannya. “Cukup baik.” Jawab Yuri singkat. Pria itu tersenyum. “Syukurlah, kau baik-baik saja.” Ada nada lega dalam suaranya. “Maaf, apa aku mengenalmu?” Tanya Yuri sopan. Pria itu diam, ia tampak tak bisa menyembunyikan kekagetannya mendengar pertanyaan Yuri tadi. “Yuri, ada apa denganmu? Kau benar-banar tidak mengenalku?” Kata pria itu, ia tampak semakin cemas.
Yuri hendak menjawab ketika pintu ruangan itu terbuka lagi dan kali ini dokter dan perawat yang tadi pagi di lihatnya sedang memasuki ruangannya. “Apa kau keluarga pasien?” Tanya dokter. “Saya temannya, dok.” Jawab pria itu. “Apakah kau sudah menghubungi nomor telepon orang tua atau wali dari pasien?” Tanya dokter itu lagi. “Ia tinggal sendiri di Jakarta ini, dok. Orang tuanya sudah meninggal. Apakah ada yang serius?” Tanya pria itu. “Mari ikut ke ruangan saya.” Kata dokter. “Tolong gantikan saya, periksa dia dan berikan laporannya kepada saya nanti!” Dokter berkata pada si perawat. Si perawat hanya mengangguk.
***
Di dalam ruangan dokter, terjadi perbincangan yang serius antara ia dan pria tadi. Dari pengakuan pria tadi kepada dokter, ternyata ia merupakan kekasih pasien, Yuri. Pria itu bernama Aron. Ia merupakan pria blasteran Amerika-Korea yang merupakan anak pengacara pribadi keluarga Kwon. Yuri tinggal sendiri dirumahnya di Jakarta. ia anak tunggal. Ayahnya berasal dari Seoul dan ibunya merupakan salah satu wanita yang berpengaruh di Indonesia. Ia ditinggalkan oleh orang tuanya yang meninggal kerena kecelakaan pesawat terbang semasa ia SMP. Ketika itu Yuri berusia 15 tahun. Untungnya ia merupakan anak konglomerat pemilik Hyundai Departement Store yang membuka cabang di hampir seluruh kawasan Asia, sehingga Yuri tidak perlu dikirim ke panti asuhan.
Semua kerabat Yuri dari Ayah ataupun ibunya tidak peduli kepadanya. Beberapa ada yang menunjukkan rasa simpati tetapi sebenarnya mempunyai niat yang terselubung. Ia tinggal dirumah besar yang diwariskan oleh kedua orang tuanya bersama pembantu dan tukang kebunnya yang setia menemaninya.
Sebelum meninggal, ayah Yuri sempat berpesan kepada Aron untuk menjaga putri semata wayangnya itu. Ia mempercayakan putrinya pada Aron. Ia berpesan agar Aron mengajarinya mengenai seluk beluk perusahaan. Yuri merupakan anak yang genius. Ia belajar dengan cepat. Dalam lima tahun, ia sudah berhasil mengembangkan perusahaan yang ditinggalkan ayahnya. Keuntungan perusahaan sampai mencapai 20 persen. Ia menjadi Presiden Direktur wanita yang pertama dan termuda di Asia.
Dokter mengatakan Yuri mengalami Retrogarde Amnesia. Hal ini disebabkan oleh trauma yang ia alami pasca kecelakaan. Dokter mengatakan pada Aron bahwa amnesia yang dialami oleh Yuri ini tidak permanen. Ia hanya melupakan kenangan-kenangan sebelum kecelakaan karena traumanya. Kemampuan akademisnya masih bagus. Jadi, ingatan yuri dapat pulih sewaktu-waktu. Aron hanya diam mendengarkan penjelasan dari dokter. Dokter berharap agar Aron dapat membantu mempercepat pulihnya ingatan Yuri.
***
Beberapa hari kemudian, dokter mengijinkan Yuri pulang ke rumahnya. Aron menemaninya pulang. Setiap hari selama Yuri dirawat di rumah sakit, Aron selalu menemaninya. Pada pagi harinya sampai jam pulang kerja, Yuri akan ditemani oleh Minah, pembantunya. Sore harinya hingga pagi hari, adalah giliran Aron untuk menjaga dan menemaninya. Untuk sementara ini, hal-hal mengenai perusahaan akan diurus oleh Aron.
Yuri selalu tersenyum dan tertawa bila ada Aron disampingnya. Aron juga begitu. Ia selalu tersenyum melihat Yuri tersenyum kearahnya. Bersama Aron beberapa hari, Yuri sedikit-sedikit sudah bisa mengingat kenangan-kenangannya bersama Aron. Seperti ketika ia mengingat ia dan Aron pergi berlibur ke Macau dan Aron memainkan piano untuknya di sebuah hotel disana, ketika ia dan Aron memasak bersama dirumahnya, dan kenangan yang lainnya. Minah juga berperan penting bagi yuri untuk mengingat kembali kenangannya bersama Aron. Minah menceritakan kisah-kisah tentang ia dan Aron yang pernah Yuri ceritakan padanya. Minah berkata bahwa Yuri sangat suka curhat dengan Minah walaupun saat mendiang ibu Yuri masih hidup. Yuri sangat menyayangi Minah dan menganggapnya seperti ibunya sendiri.
***
Sesampainya dirumah, Aron mengajak Yuri langsung beristirahat di dalam kamarnya di lantai dua. Tapi, sebelum itu, ia menyapa Parmin, tukang kebunnya yang juga merupakan suami Minah. Selama menjaga Yuri dirumah sakit, Minah juga sering menceritakan tentang suaminya. Yuri ingat sekilas tentang Pamin. Parmin adalah orang yang dulu menjadi supirnya sebelum ia bisa mengemudikan mobilnya sendiri.
Di dalam kamar, Aron menyuruh Yuri untuk segera beristirahat. “Istiratlah! Kamu pasti capek.” Kata Aron sambil menyelimuti Yuri. “Baiklah” kata Yuri sambil mengangguk. “Aku pulang dulu, besok aku menemuimu lagi. Selamat tidur” Kata Aron. Yuri hanya tersenyum.
***
Keesokan harinya, Yuri memutuskan untuk pergi kerumah Aron ditemani Parmin. Dirumah Aron, Yuri langsung masuk tanpa membuyikan bel karena pintu gerbang terbuka lebar. Mobil yang dipakai oleh Aron untuk mengantarnya pulang kemarin pun masih terparkir di depan rumahnya.
Pintu depan rumah Aron pun juga terbuka setengahnya. Ia dapat melihat Aron dari luar. Ketika hendak masuk kedalam, langkah Yuri terhenti. Ia melihat Aron dan seorang wanita yang kira-kira sebaya dengannya sedang berbincang-bincang. Yuri enggan mengganggu perbincangan mereka. Ia membalikkan badannya hendak pergi.
***
“Rencana kita sepertinya akan berhasil. Sekarang nona muda itu mengalami amnesia dan tinggal beberapa langkah lagi bagi kita untuk menguasai perusahaannya.” Kata wanita itu. “Tutup mulutmu, Bella!” Kata Aron . wanita itu ternyata bernama Bella. “Aron sayang, mengapa kamu begitu kasar kepadaku? Bukankah ini memang rencana kita sejak awal?” Bella menghampiri Aron dan menepuk pundaknya. Aron menatapnya. “Kau mendekati Yuri, anak dari almarhum Presdir Kwon untuk membalaskan dendam ayahmu kan? Membalaskan dendam ayahmu yang meninggal karena dipaksa setia pada keluarga Kwon dan dipaksa melakukan hal yang berarti ia harus siap mengorbankan nyawanya sendiri demi keluarga Kwon kapanpun dan apapun yang terjadi.” Bella berkata dengan sedikit berteriak ke arah Aron. Kemudian ia menarik napas, menenangkan dirinya sebeum ia kembali melanjutkan dengan suara yang pelan. “Jika bukan karena ayahmu, Aron, yang memasangkan parasut darurat pada anak bernama Yuri pada saat kecelakaan pesawat lima tahun lalu itu, anak itu pasti sudah mati menggantikan ayahmu yang sekarang berada di surga.  Ayahmu mengorbankan parasut darurat miliknya untuk anak itu dan mengabaikan keselamatannya sendiri. Jika saja…” “Cukup Bella! Hentikan! Aku muak mendengar omong kosongmu!” Teriak Aron.
***
Ketika hendak berbalik meninggalkan Rumah Aron, terdengar teriakan wanita yang di dalam tadi. Suara wanita itu terdengar dan terngiang-ngiang di telinga Yuri. Yuri dapat mendengar dengan jelas semua percakapan itu. Ia menagis sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. Kakinya lemas, ia tak sanggup berdiri lagi. Ia berpegangan pada tembok disampingnya untuk membantunya tetap berdiri.
***
 Di pikirannya tergambar ia yang tersenyum sambil mengendarai mobil menuju rumah Aron. Ia ingin memberi kejutan kepada Aron.  Ia ingat, sebelumya ia juga pernah mendengar kata-kata yang mirip, yang pernah diucapkan wanita bernama Bella itu. 
Setelah berusaha keras mengingat sambil menahan sakit kepalanya, Yuri akhirnya berhasil mengingatnya. Pada saat itu, ia sampai di pintu depan rumah Aron dan hendak masuk. Tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat wanita bernama Bella itu sedang duduk di ruang tamu Aron. Wanita itu dan Aron sedang berbicara mengenai rencana pembalasan dendam yang ditujukan kepada dirinya.
Yuri sangat terkejut mendengar hal itu. Ia hanya bisa diam. Ia segera berbalik meninggalkan rumah Aron menuju mobilnya yang diparkir diluar. Ia menginjak gas mobilnya sangat dalam dan melaju dengan kecepatan yang tinggi. Ia menangis dengan sangat keras di dalam mobilnya. Ia tak menyangka bahwa Aron, orang yang paling ia percayai di dunia ini, akan menusuknya dari belakang. Ia tak menyangka bahwa Aron mempunyai niat balas dendam terhadapnya.
Karena basah oleh air mata, Yuri tak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di depannya. Ia ternyata melaju di jalur yang salah. Sebelum sempat menyadari kesalahannya, Yuri mendengar suara keras klakson truk di depannya. Ia refleks membanting setir mobilnya ke kanan. Mobilnya menabrak trotoar dan ia tak sadarkan diri.
***
Yuri sudah ingat lagi sekarang. Ia mengingat dengan jelas semua kenangan menyakitkan itu. Ia tak sadar air matanya mengalir deras. Kepalanya sangat sakit dan lututnya menjadi semakin lemas. Ia bersender pada tembok rumah Aron. Kemudian penglihatannya menjadi kabur dan kepalanya berkunang-kunang. Yuri jatuh dan tak sadarkan diri.
***
“Yuri, kau kenapa? Jangan pingsan disini! Bangunlah!” teriak Parmin. Suaranya terdengar panik. Mendengar teriakan panik Parmin diluar, Aron segera keluar. Ia melihat Yuri pingsan dan Parmin sedang mengguncang-guncangkan tubuh Yuri mencoba membangunkan Yuri. Wajah Aron menegang. Ia hanya berkata “Kita ke rumah sakit, sekarang!”
***
Yuri masih terdidur pulas di ranjang rumah sakit. Aron duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya. Ia membelai rambut Yuri yang hitam panjang. Ia menduga Yuri sudah mendengar percakapannya dan Bella tadi. Walaupun begitu, ia berharap Bella tak mendengarnya. Ia tak mau Bella marah dan menjadi salah paham kepadanya.
Sebenarnya Aron tak pernah menyimpan dendam apapun terhadap Yuri. Ia sungguh-sungguh mencintai gadis itu dengan tulus. Bella hanya suka ikut campur urusan orang. Aron heran darimana gadis itu bisa mendapatkan informasi mengenai ia dan Yuri dengan sangat akurat. Ia tak menyangka ada orang yang sampai tahu mengenai alasan kematian ayahnya. Bahkan Yuri sendiripun tidak mengetahui alasan kematian ayahnya.
Yuri mengalami trauma yang berat setelah kecelakaan pesawat yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ayah dan ibunya. Seandainya saja ia tidak merengek minta liburan akhir tahun ke Hawai, pasti ayah dan ibunya masih berada disini, bersama dengannya hingga saat ini. Yuri juga mengalami depresi yang sangat hebat. Ia seolah-olah sudah menyerah akan hidupnya. Demi kebaikan Yuri, Aron menemui pakar psikologis yang menyarankan agar Yuri dihipnotis dan ia pun setuju. Jadi, Yuri tidak ingat bahwa ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang. Yang ada dalam ingatannya adalah ayahnya meninggal karena sakit jantung dan beberapa tahun kemudian ibunya juga meninggal karena asma yang di deritanya.
Bella merupakan teman kuliah Aron di Havard University. Ia tahu Bella menyukainya dan sering bertingkah bahwa Aron adalah kekasihnya. Aron sudah jelas-jelas menyuruh Bella untuk menjauh. Tetapi, Bella tak pernah mendengarkannya. Ia terus saja menempel pada Aron. Ia memang wanita bermuka tebal.
Hingga pada suatu hari, Bella datang ke rumahnya dan merencanakan balas dendam atas kematian ayahnya pada Yuri. Aron terkejut bukan main. Ia tak habis pikir dengan rencana gila yang di ajukan oleh Bella. Aron jelas-jelas menolaknya dengan mentah-mentah. Tapi, Bella berkata bahwa jika Aron tidak setuju, ia sendiri yang akan membalaskan dendam Aron pada Yuri dengan cara apapun. Ia ingin Aron memutuskan hubungannya dengan Yuri.
Pada saat itu, ia tak tahu bahwa Yuri berkunjung kerumahnya dan mendengar rencana gila yang diajukan oleh Bella. Yuri hanya mendengar setengah dari pembicaraan mereka. Yuri dibutakan oleh amarahnya. Ia sudah salah paham dan mengira Aron telah mengkhianatinya.
***
Yuri tersadar beberapa jam kemudian, ia melihat Aron duduk disamping ranjangnya dan menatapnya dengan cemas. Aron melihat Yuri telah sadar. Ia tersenyum sekilas. “Apa kau baik-baik saja?” Tanya Aron. Yuri ingat dengan kejadian dirumah Aron tadi. Melihat Aron, membuat hatinya terasa sakit. Ia memalingkan wajahnya dan membalikkan badannya memunggungi Aron. Yuri tak sanggup melihat wajah Aron. Matanya berkaca-kaca menahan agar ia tak menjatuhkan air matanya di depan Aron.
“Syukurlah kau sudah sadar. Aku akan panggilkan dokter untuk memriksamu kesini.” Kata Aron lembut. Aron pergi meninggalkan Yuri sendirian di dalam kamarnya. Sepeninggal Aron dari kamarnya, Yuri tak kuasa membendung air matanya lagi. Ia menangis tanpa suara. Walupun begitu, Aron mengetahui kalau gadis itu sedang menangis.
***
Selama seminggu ini Aron datang menjenguk Yuri di rumah sakit, setiap hari pula Yuri selalu menolak kunjungannya. Ia tak pernah menolak kunjungan dari Minah dan Parmin maupun kunjungan dari teman-teman sekantornya. Sepertinya dugaa Aron benar. Yuri mendengar pembicaraanya dengan Bella waktu itu dan menjadi salah paham terhadapnya. Aron sudah mencoba untuk menjelaskan kesalahpahaman ini. Tetapi, ia tak punya kesempatan. Yuri selalu menolak bertemu dengannya. Aron merasa sangat sedih.
Minah melihat hal itu dan merasa simpati terhadap Aron. Minah pernah mencoba membujuk Yuri untuk menerima kunjungan dari Aron tetapi Yuri mengancam akan memusuhi Minah juga jika ia sekali lagi berani berkata demikian. Minah tak tahu apa penyebab pertengkaran majikannya itu dengan Aron. Selama ini, ia tak pernah melihat Yuri begitu sangat marah terhadap Aron, sampai-sampai tak mau berbicara padanya selama berhari-hari.
Setahu Minah, Yuri memang pernah bertengkar dengan Aron untuk hal-hal yang sepele. Seperti ketika Aron membatalkan janji kencannya tiba-tiba karena suatu hal dan membuat Yuri menunggu selama 1 jam di Bioskop. Sampai dirumah, Yuri langsung mengeluarkan unek-unek dan rasa kesalnya terhadap Aron ke Minah. Minah hanya menjadi pendengar yang baik dan kadang-kadang juga suka memberikan solusi. Keesokan harinya, Aron datang membawa sebuket bunga dan menyiapkan sarapan untuk Yuri. Pada awalnya Yuri merajuk tetapi setelah itu, mereka berdua berbaikan kembali.
Kali ini Minah menduga masalahnya sangat serius sampai-sampai Yuri marah berhari-hari. Tidak seperti biasanya, Yuri juga tidak bercerita apa-apa pada Minah untuk masalah kali ini. Ini membuat Minah bingung. Minah enggan menanyakannya langsung kepada Yuri ataupun Aron, Minah berpikir keduanya sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah mereka.
***
Hari ini adalah hari dimana Yuri keluar dari rumah sakit. Hari ini Aron juga datang. Sebelumnya, ia dan Minah sudah mengatur rencana agar Yuri tidak bisa menghindari Aron kali ini. Minah dan Yuri keluar dari pintu rumah sakit. Minah meminta ijin untuk ke toilet sebentar sambil mereka menunggu Parmin menjemput mereka. “Baiklah, jangan lama-lama atau nanti aku tinggal.” Kata Yuri datar.
Aron menghampiri Yuri sambil membawa buket bunga mawar putih favorit Yuri ditangannya. Yuri hanya menatapnya dingin dan berbalik hendak pergi menyusul Minah ke toilet, tapi ia terlambat. Aron sudah menggenggam kuat tangannya dan menuntunnya menuju taman kecil di dekat rumah sakit. Yuri mencoba melepaskan genggaman Aron, tetapi genggaman pria itu terlalu kuat. Ia memaksa Yuri untuk duduk di salah satu bangku taman rumah sakit dibawah pohon yang rindang itu. Yuri menurut dan duduk dengan manis. Aron berjongkok didepannya dan menatap Yuri. Tatapan matanya masih sama, teduh.
“Aku tahu mengapa kamu menjadi seperti ini.” Kata Aron memulai percakapan. Yuri hanya terdiam dan menatap Aron tanpa ekspresi. “Kamu sudah salah paham, Yuri. Aku tidak pernah berniat untuk membalas dendam atau apapun itu yang Bella katakan. Itu hanya rencananya gilanya sendiri.” Yuri tertegun. Ia teringat akan teriakan Aron kepada Bella yang menyuruhnya untuk menghentikan semua omong kosongnya. “Aku tulus mencintaimu, Yuri. Aku mohon berhentilah menghindariku. Kita mulai hubungan kita dari awal lagi.” Kata Aron tulus. Yuri tidak bisa menemukan nada kepura-puraan dalam kata-kata Aron tadi. Ia tahu, kata-kata Aron tadi itu memang tulus dari dalam lubuk hatinya. Yuri menagis, air mata membasahi pipinya. Yuri menyesal telah menghindari Aron selama ini dan ia juga menyesal karena tidak pernah memberikan Aron satu kesempatan pun untuk memberi penjelasan kepadanya.
Aron melihat Yuri menangis. Ia meletakkan buket bunga yang dipgangnya itu disamping Yuri. Kemudian, ia menghapus air mata Yuri dengan kedua tangannya. “Berhentilah menangis, nanti matamu menjadi sembab dan wajahmu akan menjadi jelek.” Kata Aron. “Tersenyumlah, Yuri.” Lanjut Aron masih menghapus air mata Yuri. Kemudian mereka berdua bangun dan keduanya berpelukan. Yuri memeluk Aron dengan erat sambil memegang buket mawar putih di tangan kananya. Yuri masih menagis tetapi sekarang ia tersenyum. Aron juga memeluk Yuri dengan erat dan ia juga tersenyum. Ia senang Yuri telah memaafkannya dan kesalahpahaman diantara mereka sudah terselesaikan.
Minah dan Parmin tersenyum senang melihat keduanya berpelukan dari kejauhan. Minah mengacungkan jempol kepada Aron. Aron melihatnya dan membalas mengacungkan jempolnya. Ia sangat berterima kasih kepada Minah. Tanpa ide dari Minah, mungin sekarang Yuri masih menjauhinya.
-Tamat-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar